BIOGRAFI (APA) KH.AHMAD TOHA MUSTAWI

BIOGRAFI ULAMA KHARISMATIK 

ALMAGFIRULLOH (APA) KH.AHMAD TOHA MUSTAWI

    Kyai Haji Ahmad Toha Mustawi adalah sosok ulama karismatik ternama di Jawa Barat yang disegani,beliau berpenampilan sederhana,dengan berpenampilan sederhana ini banyak orang mengira beliau seseorang biasa yang tidak memliki pengetahuan apapun,padahal ternyata pengetahuan dan kepakaran beliau sudah diakui berbagai kalangan.Beliau juga berhasil menjadi sosok ayah sekaligus guru bagi putra putranya yang kini menjadi Ulama besar dan terkenal di Indonesia mereka diantaranya;K,H Ahmad Busyiri Muslim[Pengasuh Pondok Pesantren Al-Burdah Soreang],K.H Hidayat Taufiq[Pimpinan Majelis Al-Bariziyyah Wal Mahmudiyyah Soreang],Prof.Dr[HC]K.H Muhyidin Abdul Qodir Al-Manafi MA[Pengasuh Pondok Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy-Syifa Wal Mahmudiyyah Sumedang]

I . Nasab

   Terkait tempat dan tahun kelahiran beliau belum ada keterangan data lebih tepat beberapa versi menyebutkan beliau lahir pada tahun 1895,karena pada waktu itu masalah data kelahiran belum terlalu dianggap penting oleh rakyat Indonesia yang masih dibelenggu penjajahan orang orang dari negeri kincir angin.


   K.H Ahmad Toha Mustawi adalah putra ke-8 dari sepuluh bersaudara dari pernikahan K.H Hasan Mustawi dan Ibu Hj  Siti Mariyah,berdasarkan silsilah nasab atau garis keturunan,K.H Ahmad Toha Mustawi,berada pada garis keturunan yang secara vertikal,kedua orang tuanya memiliki garis keturunan kepada Rosululloh Saw dari pihak ibu,yang bernama Ibu Hj Siti Mariyah, r.a dan sementara dari jalur ayah beliau merupakan keturunan Syekh Qurrotul Ain,penyebar agama islam sebelum datangnya wali songo,yang memiliki anak Nyimas Subang Karancang,yang menikah dengan Prabu Siliwangi[Raja Pajajaran].

   Berikut adalah silsilah K.H Ahmad Toha Mustawi, dari nasab ibu yang langsung tersambung kepada Baginda Rasulullah SAW: KH. Ahmad Toha Mustawi r.a (Syaekhuna Apa Bojong), putera Ibu Hj. Siti Mariah r.a (istri Ama Eyang Bojong), putera Mbah Ro’is r.a, putera Mbah Zahid r.a, putera Mbah Haji Abdul Qohar 2 r.a, putera Mbah Haji Abdul Qohar 1 r.a, putera Mbah Sayyidi ra, putera Eyang Dalem Haji Abdul Manaf Mahmud r.a, putera Eyang Dalem Dirga Sentak Dulang r.a (Maqomna tonggoheun Sukamiskin), putera Eyang Dalem Nayasari r.a (Cipanganten Cipanas Garut), putera Eyang Dipatiukur 3 r.a, putera Eyang Dipatiukur 2 r.a, putera Eyang Dipatiukur 1 r.a, putera Pangeran Antas Angin, putera Maulana abdur Rahman Al-Qodri r.a, putera Kangjeng Syekh Syarif Hidayatullah r.a (Sunan Gunung Djati Cirebon), putera Imam Ummatuddin Abdullah r.a. (sultan Mesir), putera Imam ‘ali Nur ‘Alam r.a., putera Imam Jamaluddin Al-Husaeni r.a, putera Imam Ahmad Syaah Jalal r.a., putera Imam Abdullah Udmatukhon r.a., putera Imam ‘Abdul Malik r.a., putera Imam ‘Alwi r.a (Pamannya Al-faqih Muqoddam), putera Imam Muhammad Shohib Mirbat r.a, putera Imam ‘Ali Khola Qosam r.a, putera Imam ‘Alwi r.a., putera Imam Muhammad r.a., putera Imam ‘Alwi r.a, putera Imam ‘Ubadillah r.a., putera Imam Ahmad Al-Muhajir r.a. putera Imam ‘Isya An-Naqib r.a., putera putera Imam An-Naqib r.a., putera Imam Ali Al-‘Uraidi r.a. (Makamnya wangi), putera Imam Muhammad Ja’far Ash-Shidiq r.a. putera Imam Muhammad Al-Baqir r.a., putera Imam Ali Zainal Abidin r.a., putera Sayyidina Husein r.a., putera Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.r.w suami Fatimah Az-Zahra r.a binti Rasulullah SAW.

(Sumber: Dokumen Silsilah K.H. Muhyiddin Abdul Qodir Al Manafi).

   Di samping beliau memiliki nasab yang tersambung dengan Rasulullah SAW, juga nasab keturunannya tersambung kepada Prabu Siliwangi yang terkenal sebagai raja di tanah Pasundan, atau lebih dikenal dengan Kerajaan Pajajaran.

   Berikut silsilah beliau dari jalur ayah:K.H. Ahmad Toha Mustawi r.a (Syaekhuna Apa Bojong), putera Mama Hasan Mustawi r.a (Ama Eyang Bojong), putera Mbah Haji Hasan Manafi ra, putera Embah Kadim r.a, putera Embah Ishak r.a, putera Embah Bukhori r.a, putera Eyang Dalem Sumagiri r.a (Istri yang ditikah oleh Pangeran Sumedang), putera Eyang Dalem Anggayuda r.a (Situwangi Cipatik), putera Eyang Rangga Abdul Gholib r.a (Ciminyak Saguling), putera Eyang Sontoan Qunur r.a, putera Eyang Katimanggala r.a (Sindangkarta Cililin), putera Eyang Santoan Kiai Gedeng Rungkang r.a, putera Eyang Sontoan Sanga Adipti Kartamanah r.a (Murid Sunan Gunung Djati), putera Raden Kian Santang (Syekh Shomadulloh r.a ),

II . Mengarungi Samudra Ilmu

   KH. Ahmad Toha Mustawi dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang taat pada agama.Sejak kecil beliau mendapat didikan langsung ayahnya K.H Hasan Mustawi,pada waktu itu beliau sudah mendapat didikan ilmu dasar pesantren seperti Jurumiyyah,Imrithy.Dengan besar harapan Sang Ayah anaknya kelak bisa  menjadi sosok yang alim serta ahli ibadah. 

Setelah mendapat bimbingan dan didikan dari sang ayah kemudian beliau mengembara di berbagai pesantren diantaranya:


■ Pesantren di Cijerah

   Singkat cerita , 6 bulan lamanya menetap serta mengaji disana akan tetapi selama itu APA belum pernah ditanyai oleh sang guru,hal tersebut membuat APA berkecamuk sedih dalam pikiran "bagaimana caranya supaya ingin ditanya oleh guru.
Akhirnya APA berinisiatif tanpa berpikir panjang langsung naik ke atas atap asrama santriawati dan berdiam disana, dengan kesengajaan supaya ada santri yang melapor.Dan akhirnya rencana tersebut berhasil.

Tak sengaja ada santri yg lewat kemudian segera melapor pada sang guru,tidak lama setelah menerima laporan dengan tegas sang guru memanggil APA.Singkat cerita, terjadilah perbicangan,sang guru dengan wajah semu marahnya menanyakan identitas APA


Ama Cijerah:"anjeun teh putra mama Bojong?
APA:"Sumuhun"
Ama Cijerah:"anjeun teh murid kesayangan ama Cibabat?
APA:"sumuhun"
Ama Cijerah:"anjen teh murid ajengan Cibaduyut?
APA:"sumuhun" 

 Terus Apa melanjutkan pembicaraannya dengan penuh ta'dzim bernada lembut:

"sumuhun abdi the putrana Ama eyang Bojong,leres abdi teh murid kesayangana mama anu dititipkeun ku mama eyang Cibabat,lereus abdi teh anu dititipkeun ku mama eyang Cibaduyut.Nanging abdi teh masantren tos 6 sasih di Ama,tapi teu acan kantos dipiwarang bujeng bujeng kadipiwarang kulan,ditaros ge tara."

      Pernyataan tersebut membuat terharu sang guru sambil berbicara"oohh....oha teh hoyong dipiwarang ku eyang".Selanjutnya eyang langsung memanggil ketua Rois pondok pesantren:

"kiyeu Jang ,Pokona sakabeh urusan nu aya dipasantren,eyang rek mercayakeun ka mang oha,naon naon ceuk si Toha gugu Jang euy nya,pokona eyang rek masrahkeun urusan bab gawe sagala rupa ka si toha".

• Masih di Cijerah


   Kala itu suara rintik riuh diterpa angin,warna langit cerah nan indah,tarik riuh santri santri mengaji mengaum di pondok pesantren cijerah.K,H Muhammad Syafi’ sang pengasuh pondok pesantren atau yang dikenal dengan  Ama eyang cijerah memiliki kerbau yg terkenal dengan ukuranya serta tanduknya yg jarang ditemui karena sangat besar.
Suatu waktu ikatan yg ada pada hidung kerbau tersebut lepas dan sang kyai langsung mengumpulkan santri-santri terpilihnya yg ahli dalam bersilat mahmud yang jumlahnya terdiri dari 7 orang dengan maksud akan memerintahkan untuk memasangkan kembali ikatan tersebut, lalu mereka dihidangkan dulu makanan supaya tenaganya besar untuk meringkus kerbau yg gagah itu,disamping mereka sedang menikmati hidangan,datanglah APA yg belum sempat makan yang sepulang nandur dari sawah,dan menanyakan pada seseorang

"Jang Aya naon itu meuni rame di bumi ma eyang?
bade ngaringkus munding saurna lepas"jawab seseorang tsb.
Kemudian APA menyuruh seseorang tsb untuk membawa kerbau  setelah berhadapan, kerbau yang gagah itu dibawa ke kebun ,kemudian dikasih umpan dedaunan supaya jinak .Dan benar, dengan tenang serta keahliannya kerbau yg gagah itu berhasil diringkus dan dipasangkn tali tambang itu pada hidungnya oleh APA, seseorang yang melihat itu hanya bisa tercengang dan takjub melihatnya.Lalu APA menyuruh mengembalikan kembali kerbau itu pada tempatnya
"Jig Jang bawa deui ngan omat tong ribut"
Ketika 7 santri ahli silat Mahmud itu baru beres menikmati makan,salah satu dari mereka menanyakan pada eyang:

"eyang anu mana munding nu bade ditendok teh?
"Eta we da ngan hiji munding ama mah"jawab sang guru.
Setelah ditatapnya kerbau itu dengan seksama ternyata telah terpasang seperti semula,,hal tersebut menimbulkan pertanyaan di benak masing²,khususnya pada sang guru(eyang Cijerah) selanjutnya eyang menanyakan pada seseorang saksi mata disekitar kandang kerbau.

"Jang kusaha eta ditendok?’’
"Duka da ku akang santri"jawab seseorang itu

Pernyataan tsb membuat sang guru
semakin penasaran siapakah yang memasangkan kembali kerbaunya.Untuk memuaskan penasarannya maka ama cijerah menyuruh salah satu santrinya untuk mengumpulkan seluruh santri yg kala itu jumlahnya mencapai ratusan,setelah mengumpul semuanya kemudian diperlihatkan 1 persatu dari santrinya sambil menanyakan pada saksi mata itu,

"ieu lain?"Jawaban "bukan"selalu dilontarkan oleh saksi mata itu,,membuat sang guru semakin penasaran
"Nu mana santri nu sabenerna?"

Akhirnya saksi mata itu melirik dan menemukan santri yang dimaksud sambil menunjuk santri tersebut dan tunjukan itu mengarah tepat pada APA 

"Nu itu eyang"Sang guru spontan melirik siapa yg ditunjuknya itu dan dilihatnya adalah APA,maka sang guru langsung berbicara
"Ku oha cenah ha,kami teh rugi maraban nu jago jurus,ai oha mah can dahar dahar Acan"

Komentar